Rabu, 09 Mei 2018

Rindu Ta'aruf



Suara takbir menggema disekitaran tempat ibadah masyarakat muslim di Denpasar. Setelah melewati perjuangan 30 hari menahan haus, lapar, dan melawan hawa nafsu. Tibalah hari kemenangan yaitu Hari Raya Idul Fitri. Masyarakat muslim berbondong menuju tempat ibadah. Ada yang berjalan kaki dan ada pula yang mengendarai kendaraan. Tidak seperti daerah mayoritas muslim dengan kemegahan rumah Allah dan takbir yang terdengar disepanjang jalan.
Daerah ini bisu dengan suara menyebut nama Allah. Sepi karena kampung halaman adalah tempat terbaik. Bahkan di kota ini, perlu kepo untuk tahu informasi titik lokasi ibadah salat Idul Fitri.

Ku pacu kendaraan roda dua menuju lokasi. Satu persatu rintiknya membasahi bumi. Lalu mengeroyok hingga menembus kain putih penutup tubuh. Masjid ukuran kecil ini adalah pilihan tepat untuk melaksanakan salat. Meski tak senyaman lapangan luas dengan alam sebagai refleksi hati dan pikiran. Aku melangkahkan kaki masuk ke dalam dan menuju shaf. Diatas sajadah biru, aku berdiam diri melihat ke arah pintu yang berada di sebelah kiri. Rintik hujan adalah saksi bahwa ada kebahagiaan dibalik kesedihan. Tersenyum kecut, menyadari keberadaan diri. Terhenyak pada adegan seorang anak yang tampak bahagia sekali dengan gaun putih bersih. Berpegangan tangan dengan ibunya agar tidak jatuh saat masuk ke dalam masjid. Hati ku tergetar. Merasakan rindu yang menghujam. Rasa rindu akan pertemuan.

“assalamuala’ikum warohmatullah..”, ucap ku sembari kepala menoleh ke arah kanan, selepas tahiyatul akhir. Duduk bersedekap sembari melafazkan ayat-ayat Allah dan berdoa. Ada yang mengalir di pipi ku. Jatuh begitu saja tanpa diminta. Rindu akan orang tersayang di kota kelahiran. Dan harapan yang tidak tahu kapan akan tiba. Sudah berapa kali ramadhan terlewati, tapi tak juga muncul. Kerinduan akan seseorang yang tertulis di lahulmahfuz. Dia yang selalu ku doakan disetiap salat dan mulai ku khususkan dalam itikaf di malam ganjil ramadhan yang baru saja terlewati.

Ku parkir motor di depan mess. Membuka gerbang dan melihat sekitar. Sepi dan sunyi. Tak ada seorang pun. Ku buka pintu kamar. Masuk dan terdiam. Teringat akan bisingnya suara keponakan yang memanggil “bungsu”. Tangisan yang memekakkan telinga. Canda tawa dari mereka. Biarkan beberapa jam ini menjadi waktu terbaik, hingga esok hari tiba adalah waktu bahagia bersama keluarga. Dan biarkan waktu yang menjawab mimpi akan pertemuan. Entah berapa ramadhan lagi.

Rok ungu dengan blazer ala korea adalah baju terbaik agar tidak lagi berganti pakaian untuk hari ini. Pesawat malam menjadi jadwal yang sudah ku fikirkan baik-baik dan tahu akan konskuensi yang terjadi. Ku kenakan hijab simple menutup dada. Bercermin sambil tersenyum. Menyadari tiada guna bersedih dan berdiam diri. Ku ambil tas dan menutup pintu. Silahturahmi sekaligus berpamitan untuk pulang kampung. Ada beberapa rumah yang mesti dituju. Ku hidupkan motor dan tujuan utama adalah rumah saudara angkat. “Bismillah”, bisik ku dalam hati. Jalanan lengang tak seramai biasanya. Dengan kecepatan standar 60 km/jam, aku sudah sampai lebih cepat dari biasanya. Rumah megah dengan halaman yang hijau. Layaknya memasuki istana. Tinggi bertingkat nan luas. Rumah yang nyaman dan menjadi target impian ku suatu hari nanti. 

Aku berjumpa dengan mereka yang ku panggil dengan sebutan Ayuk dan Kakak. Makanan sudah tersedia di meja makan. Beragam makanan untuk menyambut hari spesial. Tentu saja, aku akan memakan apa saja yang ditawarkan. Di meja itu, aku makan dan kami bercerita akan pengalaman. Sedang asiknya bercerita, HP ku berdering. Telp dari Pak Ustad mengagetkan ku. “Tumben Pak Ustad nelp”, fikir ku dalam hati. Ku angkat telp dan menanyakan perihal.
“Assalamualaikum. Ya Ustad, ada apa Ustad?”, sapa ku saat telp sudah tersambung.
“Walaikumsalam Wr.Wb. Fifin bisa kerumah saudara saya, gak jauh dari mess fifin? Ada orang yang mau bertemu dengan mu disini. Saya tunggu ya”, jawab Pak Ustad singkat.

Ada rasa deg-degan di hati. Rasa akan ada kejutan yang diberikan. Tapi bagaimana bisa aku tiba-tiba pulang, sedang aku baru saja disini. Tidak ku pedulikan ajakan Pak Ustad tersebut, meski saat itu aku menjawab akan diusahakan. Aku masih terfokus dengan Ayuk dan Kakak disini. Akhirnya sudah 2 jam berlalu, aku berpamitan pulang. Segera ku sms Pak Ustad, menanyakan bagaimana kelanjutan pertemuan itu. Tidak berapa lama, aku menerima sms yang berbunyi:
“Maaf fifin, dia sudah pulang. Belum jodoh bertemu. Fifin kerumah saya saja sore nanti”
Ah iya, barangkala belum jodoh bertemu. Ku hidupkan motor. Dan melanjutkan rencana untuk bertemu dengan teman kantor. Sepanjang perjalanan, aku menyesali tiada pertemuan itu. Penasaran akan maksud ajakan pertemuan.  

Masjid Annur, tidak jauh dari kantor ku yaitu Dompet Sosial Madani (DSM). Aku melaksanakan salat zhuhur dan menunggu teman kantor. Kami sudah janjian untuk silahturahmi ke rumah teman yang berlokasi di Denpasar. Sasaran rumah yang dituju adalah rumah Mas Fatkur dan Mas Dodi. Setengah jam berlalu, akhirnya kami sudah berkumpul semua. Kami segera pergi menuju rumah Mas Fatkur. Cukup 10 menit, kami sudah sampai di lokasi. Aku bersalaman dengan orang tuanya begitupun dengan teman lainnya. Duduk di samping pintu menikmati angin yang berhembus menyeka keringat. Melihat pohon jambu tanpa buah. Teringat ku akan masa kecil. Si manusia lincah panjat-memanjat. Dan hari ini si lincah itu sudah tumbuh besar dan menjadi manusia ektrovert. Barangkali menunggu jodoh juga saat ini. “ah astagifirullahal’aziim”, sadar ku dari lamunan.

Aku tersenyum dengan teman-teman dan mengambil air yang sudah disiapkan. Rumah Mas Fatkur dekat dengan jalan. Hari ini jalan itu tampak sepi tidak seperti biasanya. Tidak ada yang berdagang makanan ataupun membuka jasa laundry. Ternyata daerah ini banyak muslimnya sama seperti daerah ku di Monang-Maning. Mereka sudah mudik duluan daripada keluarga Mas Fatkur.
Tidak begitu jauh dari rumah mas Fatkur. Kami sudah berada di tempat Mas Dodi. Tempat yang cukup luas untuk satu keluarga. Ibunya telah bersiap menunggu kami. Suguhan yang diberikan lebih dari cukup. Ada lontong, daging, dan cemilan lainnya. Ibu mas Dodi tampak senang sekali dengan kehadiran kami. Aku tersenyum mendengar cerita beliau. Sedang mendengarkan dengan seksama, HP ku berdering. Pak Ustad menelpon lagi.
“Assalamualaikum. Fifin dimana? Jadi kerumah saya?”, tanya beliau.
Aku menjawab ya secara yakin. Meski saat itu, lagi-lagi aku terkendala dengan tidak enakan harus pulang duluan. Akhirnya setengah jam berlalu, kami pamit pulang. Aku, Mas Fatkur, dan Mas Tri pulang untuk rute selanjutnya yaitu salat ashar. WA ku berbunyi, rupanya Pak Ustad meng-chat ku.
“Fifin cepetan kesini, nanti orangnya keburu pulang”.

Aku semakin aneh. Antara dikejar-kejar dan dikerjain. Aku pamit dengan teman-teman untuk kerumah Pak Ustad. Pak Tri izin pulang duluan. Tinggallah Mas Fatkur yang dengan setia menemani ku. Mencari alamat yang dituju. Hingga nyasar dan bertanya ke orang-orang. Akhirnya kami sampai di rumah tujuan. Aku yang sudah dari tadi menahan buang air kecil, langsung bergegas pamit untuk ke WC. Aku tidak memperdulikan sekitar. Tapi hawa yang tak biasa mengusikku. Tidak ada siapa-siapa yang mencolok. Tidak ada yang menunggu ku di kursi tamu. Ini sebenarnya ada apa?”, tanya ku dalam hati. Masih dengan rasa penasaran ku. Aku keluar dari kamar mandi. Berjalan pelan-pelan untuk mengintip diluar sana. Ku lihat pundak seorang lelaki. Duduk di kursi tamu. Laki-laki yang ku tepis dalam fikiran bahwa dialah yang Pak Ustad maksud. Laki-laki yang tidak ku harapkan pada awalnya. Laki-laki yang ku kira dia adalah saudara dari keluarga Pak Ustad dan tidak mungkin bila maksudnya di jodohkan dengan ku.  “Ah mungkin yang Pak Ustad maksud sudah pulang”, fikir ku dan dengan percaya diri berjalan mencari istri Pak Ustad.

Aku sudah mengenal istri Pak Ustad. Mencari beliau untuk bersalaman. Ku lirik ke arah kanan. Sosoknya berdiri diantara perempuan lainnya, yang ternyata adalah keluarga besarnya. Di dapur, dengan ukuran yang cukup besar. Mereka para perempuan sedang asik bercanda tawa. Ada yang sedang masak, dan menunggu masakan. Dan ada yang sedang mengobrol asik. Melihat kedatanganku, mereka manyambut baik dan tersenyum ramah.

Aku yang sudah bersalaman pun menuju ruang tamu untuk duduk dan mengobrol dengan Pak Ustad. Laki-laki itu masih tetap ada disana, tempat dimana aku melihat pundaknya pertama kali. Laki-laki yang ku fikir dia sudah punya keturunan. Karena sentuhannya kepada anak-anak cukup meyakinkan ku saat itu. Kami mengobrol masing-masing berdua. Tiba waktunya aku terhenti berbicara karena tidak ada lawan bicara. Laki-laki itu tiba-tiba memulai percakapan. Bertanya kepada ku akan perjalanan sampai di Bali. Aku bercerita banyak ke beliau. Layaknya bertemu dengan dosen, aku menjawab dengan formal. Ku tatap mata nya ketika berbicara. Begitulah cara ku berbicara dengan lawan bicara. Dia menanggapi pembicaraan ku. Terjadilah komunikasi yang baik diantara kami. Dia tertawa, dan sesekali bergumam menanggapi pembicaraan.  

Azan magrib berkumandang. Aku tahu waktu ku tidak banyak lagi. Penerbangan tidak akan menunggu keterlambatan. Segera aku berpamitan untuk pulang. Lebih tepatnya, untuk menyegerakan salat terlebih dahulu. Laki-laki itu menatap ku dengan senyum sebagai tanda perpisahan. Tiba-tiba istri pak ustad menyodorkan mukenah. Ia tahu aku akan singgah di masjid dekat sini, dan tidak ada mukenah disana.

Tidak jauh dari rumah, masjid dengan ukuran yang tidak begitu besar dan sedang direnovasi, aku melaksanakan salat. Begitu juga dengan mas Fatkur. Setelahnya, dengan mukenah yang masih di tangan. Sangat tampak mukenah itu masih baru dan belum pernah digunakan. Aku memutuskan untuk mengembalikannya segera. Ku kenakan sepatu dan mengajak mas Fatkur untuk kembali kesana.
“Assalamualaikum wrwb”, sapa ku pada mereka yang sedang duduk bersama-sama. Sedikit malu dan salah tingkah, aku memohon untuk dapat menerima mukenah yang telah dipinjam. Mereka tersenyum pada ku, dan “dia” menerima mukenah dengan senyum manis. Segera saja aku berpamitan pulang. Pak Ustad dan istrinya mengantar ku sampai benar-benar pergi. Keluarga sederhana dengan penuh kehangatan. Aku menyukainya.

Pikiran ku sudah tertuju untuk keberangkatan ke kampung halaman. Mas Fatkur masih setia menemani ku. Teman yang sama keberangkatan dengan ku, sudah menunggu di depan mess. Perlengkapan yang akan dibawa sudah siap. Mobil online sudah dipesan. Hanya butuh 10 menit, mobil yang kami pesan sudah sampai. Satu per satu barang yang akan dibawa masuk ke dalam mobil. Dan motor kami sudah diamankan dengan baik. Aku akan meninggalkan kosan ini selama 10 hari. Terhitung hari ini, dan daun yang berguguran di depan halaman seakan memberi kesan bahwa mess ini telah ditinggal lama oleh pemiliknya.

Kami berangkat. Mas Fatkur menemani sampai ke bandara, ikut dengan mobil online yang kami pesan. Aku masih terngiang akan perjumpaan tadi. Sepanjang perjalanan, aku berfikir akan kejadian hari ini. Ah sudah sampai Bandara Ngurah Rai. Ku lihat jam tangan, pukul 10.00 wita, masih ada 1 jam lagi untuk keberangkatan. Kami berpamitan dengan Mas Fatkur. Aku berterima kasih karena dia menemani ku hari ini. Setelah melihat Mas Fatkur pulang,  kami segera melakukan check in. Seperti biasa, petugas melakukan cek tiket dan KTP ketika hendak masuk. Menscan barang-barang bawakan dan seluruh tubuh. Lalu kami men-check in tiket keberangkatan. Biarkan koper masuk dibagasi, dan aku hanya membawa 1 tas saja. Setelah peng-check-kan selesai, kami menuju keatas dari Bandara Ngurah Rai. Menunggu pesawat sesuai penerbangan.

Rasa lelah menyergap ku. Mata ku sudah cukup merah untuk menahan kantuk. Tibalah penerbangan yang dijadwalkan tiba. Kami mendapatkan jadwal penerbangan terakhir. Aku masuk dan duduk di bagian tengah dari pesawat. Terpisah dengan teman ku. Ku taruh tas sandang dibawah kaki. Siapa tahu ada barang yang mau ku ambil nanti. Tak berapa lama, aku tertidur pulas.

Cuaca malam ini tidak begitu baik. Sudah berapa kali, pesawat mengalami goncangan. Pramugari mengumumkan untuk tetap di tempat duduk. Aku terbangun dari tidur dan memperbaiki cara duduk. Ku lihat sekitar, samar dan cukup gelap karena lampu kabin dimatikan oleh petugas. Aku tidak mampu melihat dengan jelas penumpang yang berseberangan dengan ku. Apakah iya sama seperti ku, cemas untuk sebuah kepulangan ke kampung halaman. Ataukah sudah biasa mengalami suasana seperti ini. Aku mengucapkan istigfar berkali-kali dan mencoba relaks. Pasrah, ikhlas, dan berdoa adalah satu cara terbaik saat itu.

Akhirnya pesawat sampai ke Jakarta. Aku bersyukur sekali. Bersama teman ku, kami tersenyum karena selamat sampai ke Jakarta. Kami bermalam di bandara. Tidur di kursi untuk penerbangan pesawat di subuh hari. Ini adalah pengalaman pertama ku untuk tidur di bandara. Aku menikmatinya, meski ada rasa was-was mengintai. Hingar bingar orang-orang melewati tempat istirahat kami. Dingin disekujur tubuh tanpa selimut. Rasa kantuk ini benar-benar mengajak untuk tidak memperdulikan sekitar, bahkan rasa dingin yang menusuk ke tulang.

Akhirnya penerbangan ke Bengkulu mencapai jadwal. Aku senang sekali, terlebih cuaca tampak bagus kala itu. Langit biru berselimutkan awan yang putih. Cerah dengan matahari yang menyinari bumi. 45 menit saja, aku sudah sampai di Bengkulu. Kampung halaman. Ku ambil barang di bagasi, dan segera keluar bandara. Kakakku telah menunggu di bandara. Ayah ibu juga telah menunggu di rumah. Penantian 1 tahun lamanya. Rindu ini terbalaskan. Ku lihat senyum rindu dari orang tua yang menanti kepulangan anaknya. “Minal aidin wal faiidzin, maafkan saya ya ayah ibu”, ucap ku sambil menyalami mereka. Mereka tersenyum dan memeluk ku.

Aku masuk ke kamar untuk bersih-bersih. Kamar yang selalu ku rindukan. Boneka besar yang selalu menemani malam ku. Gelisah ku akan sebuah pertanyaan. Segera ku chat Pak Ustad, untuk memberikan kabar bahwa aku sudah di Bengkulu, dan menanyakan pertemuan itu.

“Assalamualaikum Ustad. saya sudah di Bengkulu. Oya Ustad, maaf saya mau tanya, yang mau menemui saya kemarin itu siapa ustad? sudah pulang ya waktu itu?, tanya ku penasaran.

Rupanya Pak Ustad sedang online. Segera ia membalas.
“walaikumsalam wrwb. Alhamdulillah sudah sampai ya. Laki-laki yang mengobrol dengan fifin itu lah yang mau bertemu. Insya allah, dia mau taaruf dengan fifin. Bagaimana dengan fifin?”

Aku terdiam beberapa saat. Masya Allah, apakah ini mimpi? Aku tersenyum. Ku rebahkan badan di kasur yang sudah bertahun ku tinggalkan. Mendengar berita gembira. Bahwa ia mau taaruf. Apakah ini tanda jodoh akan segera sampai?? Terimakasih ya Allah, aku bahagia.
End














0 komentar:

Posting Komentar