Rabu, 05 April 2017

SELAMATKAN SUMBER KEKAYAAN ALAM INDONESIA

Negara di dibelahan dunia sekalipun tentu tidak menginginkan adanya krisis global karena dampak yang ditimbulkannya. Namun tidak dapat dihindari, berbagai faktor yang terjadi saat ini, mengakibatkan krisis global kian dekat dirasakan dan menjadi momok yang mengerikan. Hal ini dikarenakan krisis global akan mempengaruhi rantai dan keberlangsungan hidup manusia, dimana dampak berat yang akan terjadi yaitu peperangan diantara satu negara dengan negara lainnya. Saat ini, dunia telah mulai dihadapkan pada 2 krisis yang harus dicari jalan keluarnya yaitu krisis pangan dan krisis energi. Krisis pangan diisebabkan karena adanya fenomena pemanasan global dan tidak meratanya distribusi. Sedangkan krisis energi dipicu oleh kian menipisnya cadangan energi yang berasal dari bahan bakar fosil (migas dan batubara) (tamhidamri.blogspot.com, 2012). [1]

Krisis pangan dan energi mempunyai hubungan pula dengan krisis financial. Krisis pangan diawali oleh krisis energi (kenaikan harga minyak dan pengembangan bionergi) yang memicu kelangkaan dan kenaikan harga pangan. Penurunan harga minyak dan krisis financial yang diikuti dengan penurunan pertumbuhan ekonomi global telah mendorong penurunan harga pangan, sehingga memunculkan fenomena baru yaitu krisis harga pangan. Krisis pangan dan financial secara simultan berdampak terhadap ketahanan pangan, ketahanan politik, dan stabilitas financial / ekonomi nasional dan kawasan (http://pse.litbang.pertanian.go.id, 2016).[2] Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, dalam beritanya http://www.rmol.co [3] mengatakan bahwa krisis global memunculkan konfik di Irak, Iran, Libya, Kuwait, Mesir, Suriah, Yaman, Sudan dan Ukraina, yang semuanya sebagai negara penghasil energi. Selanjutnya beliau mengatakan bahwa diprediksi energi fosil pada tahun 2043 akan habis dan hanya bisa digantikan dengan energi alternatif (energi hayati) yang bisa hidup sepanjang tahun hanya di wilayah Ekuator, yaitu Amerika Latin, Afrika Tengah dan Asia Tenggara.
Prediksi yang disampaikan merupakan suatu kemungkinan yang sewaktu-waktu dapat dipatahkan dengan melakukan upaya-upaya pada saat sekarang. Upaya yang dapat dilakukan agar tidak terjadi krisis berkepanjangan seperti melakukan manajemen krisis agar didapat bagaimana menghadapi krisis, membuat keputusan disaat krisis, dan memantau perkembangan krisis. Dunia telah mengalami zaman globalisasi yaitu meningkatnya keterkaitan di antara berbagai belahan dunia melalui terciptanya proses ekonomi, lingkungan, politik, dan perubahan kebudayaan. Dengan kata lain bangsa dan negara di dunia saling bergantung dan membutuhkan. Melihat perkembangan zaman sekarang, krisis dapat dimanajemen dengan menggunakan arus globalisasi. Dengan begitu, negara-negara akan bergerak menuju sumber kekayaan alam (SKA) yang besar guna mencapai tujuannya sehingga negara-negara yang memiliki SKA yang besar perlu mewaspadai hal ini.
Negara di Asia Tenggara (ASEAN) yang berada diwilayah equator dengan SKA yang besar melihat globalisasi sebagai peluang dan ancaman. Untuk itu, para pemimpin Asean sepakat membentuk sebuah pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara pada akhir 2015 yang dikenal dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pembentukan MEA dilandaskan pada empat pilar. Pertama, menjadikan ASEAN sebagai pasar tunggal dan pusat produksi. Kedua, menjadi kawasan ekonomi yang kompetitif. Ketiga, menciptakan pertumbuhan ekonomi yang seimbang, dan pilar terakhir adalah integrasi ekonomi global (http://aeccenter.kemendag.go.id, 2016)[4]. Penyatuan ini ditujukan untuk meningkatkan daya saing kawasan, mendorong pertumbuhan ekonomi, menekan angka kemiskinan dan untuk meningkatkan standar hidup masyarakat ASEAN. Integrasi ini diharapkan akan membangun perekonomian ASEAN serta mengarahkan ASEAN sebagai tulang punggung perekonomian Asia. Penanaman modal asing sangat dibutuhkan untuk meningkatkan lapangan pekerjaan dan meningkatkan kesejahteraan. Selain itu, memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara sehingga kompetisi akan semakin ketat.
Adanya MEA perlu menjadi perhatian bahwa setiap negara anggota ASEAN harus meleburkan batas teritori dalam sebuah pasar bebas dan menyatukan pasar setiap negara dalam kawasan menjadi pasar tunggal. Sebagai pasar tunggal, arus barang dan jasa yang bebas merupakan sebuah kemestian. Selain itu negara dalam kawasan juga diharuskan membebaskan arus investasi, modal dan tenaga terampil. Dalam suatu negara, barang-barang produksi dalam negeri dapat terganggu akibat masuknya barang impor yang dijual lebih murah dalam negeri yang menyebabkan industri dalam negeri mengalami kerugian besar.
dan ekploitasi alam oleh negara lain pada suatu negara akan mempunyai peluang besar untuk dikuasai.
Indonesia merupakan contoh adanya peluang untuk ekploitasi alam oleh negara lain. Awalnya MEA menjadi kesempatan yang baik untuk Indonesia karena hambatan perdagangan akan berkurang bahkan menjadi tidak ada sehingga terjadi peningkatan ekspor yang pada akhirnya dapat meningkatkan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Namun, muncul tantangan baru bagi Indonesia berupa permasalahan homogenitas komoditas yang diperjualbelikan, contohnya untuk komoditas pertanian, karet, produk kayu, tekstil, dan barang elektronik (Santoso, 2008). [5]
Indonesia yang kaya akan SKA nya menjadi daya tarik untuk dimiliki, seperti hasil pertambangan emas terbesar dengan kualitas emas terbaik di dunia yang diolah oleh PT Freeport. Memiliki cadangan gas alam terbesar di dunia, diantaranya blok Natuna dan Blok Cepu. Tambang batu bara terbesar di dunia yang dikelola oleh PT. Bukit Asam. Catatan lembaga pemerintah AS, yang mempunyai fokus di bidang Geologi (US Geological Survey), menunjukkan bahwa Indonesia menjadi salah satu negara yang mempunyai produksi dan cadangan bahan tambang terbesar di Dunia. Per 2014, dari segi cadangan SDA, Indonesia mempunyai cadangan timah terbesar kedua sedunia, emas (6), dan energi panas bumi (1). Sedangkan dari sisi produksi, negara Indonesia merupakan penghasil nikel terbesar ketiga di dunia, bauksit (2), gas (9), batubara (6), crude paint oil (1) (http://lipi.go.id, 2015)[6]. Selain itu, Indonesia memiliki lautan yang terluas di dunia dengan dikelilingi dua samudra, yaitu Pasific dan Hindia hingga tidak heran memiliki jutaan spesies ikan yang tidak dimiliki negara lain. Negara dengan hutan terluas di dunia, bahkan semua negara di dunia menyebut Indonesia adalah paru-paru dunia terbesar, dan masih banyak lagi kekayaan alam Indonesia.
Namun, banyaknya SKA Indonesia tidak dibarengi dengan pengelolaan yang baik. Beberapa kasus dari SKA Indonesia yang tidak dikelola secara baik seperti pada sektor kelautan. Menurut MenKP, dengan 70 persen wilayah yang terdiri lautan, potensi sumber daya ikan yang tersimpan di perut bumi Indonesia sangat besar untuk menopang perekonomian bangsa. Ironisnya, kontribusi sektor perikanan masih sangat rendah terhadap PNBP. Hal ini seolah mengafirmasi buruknya tata kelola sumber daya alam (SDA) di Indonesia. Jutaan hektar lahan hutan dan perkebunan yang saat ini telah dikuasai oleh pihak asing, dan persoalan diperparah oleh permainan mafia SDA berupa illegal mining dan illegal logging (http://www.kemenkeu.go.id,2014)[7]. Dalam UU Minerba, investor bisa memiliki sumber daya alam, investor bisa menambang sendiri, investor bisa menjual sendiri hasil tambangnya, yang berarti peran negara sama sekali dihilangkan dalam pengelolaan SDA tersebut. Negara hanya mendapatkan royalti PNBP 3.75% serta pendapatan pajak penghasilan (http://www.kompasiana.com,2012)[8]. Artinya, UU Minerba menjadikan asing bisa dengan leluasa menguasai sebanyak-banyaknya SDA Indonesia. Pengelolaan sumber daya alam yang tidak memihak kepada masyarakat Indonesia sendiri disinyalir kurang percayanya pemerintah terhadap perusahaan yang mengelola sumber daya alam khususnya Minerba. Banyak sekali perusahaan asing yang menguasai kekayaan alam Indonesia sehingga masyarakat negeri ini seperti tidak bisa menikmati kekayaan alamnya sendiri bahkan masyarakat lokal dipekerjakan sebagai pekerja kasar di negara sendiri. Sebenarnya sudah dijelaskan dalam UUD 1945 pada pasal 33 dimana bumi, air, dan kekayaan alam yang ada di dalamnya dikuasai oleh negara untuk kemakmuran masyarakatnya. Akan tetapi, kenyataannya hal ini tidak pernah terjadi, kekayaan alam yang kita miliki diberikan kepada asing melalui investor-investor asing yang menanamkan sahamnya di Indonesia. Menariknya, dalam ekonomi terdapat sebuah fenomena di kenal dengan istilah "kutukan sumber daya alam " yang menyatakan bahwa negara yang kaya akan sumber daya alam, terutama yang tak terbarukan seperti minyak dan hasil tambang, cenderung lebih lambat pertumbuhan ekonominya jika dibandingkan dengan negara yang terbatas sumber daya alamnya. Paradoks tersebut pertama kali dikemukakan oleh seorang ekonom Inggris bernama Richard Auty (1993) dan dikuatkan oleh Sachs dan Warner (1995) serta laporan The World Bank (2006) yang berjudul From Curse to Blessing Natural Resources and Institutional Quality (http://lipi.go.id,2016). [9]
Paradoks tersebut harus menjadi sebuah motivasi bahwa Indonesia tidak seperti yang disimpulkan. Hal yang dapat dilakukan dengan mengolah SKA dengan baik oleh bangsa kita sendiri, melakukan pengoptimalan sehingga pertumbuhan ekonomi semakin baik. Indonesia harus dapat berdiri tanpa terlalu banyak menggantungkan dengan investor asing yang sekarang sudah menjamur di Indonesia. Sebagai suatu bangsa dalam pergaulan dunia, Indonesia harus mengetahui kekuatan dan kelemahan yang dimiliki dalam segenap aspek kehidupan (astagafra). Seperti geografi, sumber kekayaan alam, demografi, ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan dan keamanan yang  kedudukannya dapat dipertahankan, ditingkatkan, dan dikembangkan. Sehingga menjadi pemikiran dengan apa yang terjadi sekarang terlepas dari dampak globalisasi itu sendiri bahwa SKA kita yang sudah hampir dikuasai asing mesti diselamatkan. Berarti, perlu adanya strategi dalam menghadapi investor asing yang telah mengekploitasi SKA Indonesia dan memanfaatkan masyarakat lokal dalam misinya agar ketahanan nasional Indonesia dapat terwujud.



[1]Putra Sunda, 2012, Krisis Pangan dan Energi, diakses dari http://tamhidamri.blogspot.co.id/2012/06/krisis-pangan-energi.html, pada tanggal 4 Oktober 2016 pukul 10.00
[2] I Wayan Rusastra, Handewi P. Saliem, dan Ashari, krisis global pangan-energi-finansial : dampak dan respon kebijakan ketahanan pangan dan pengentasan kemiskinan, diakses dari http://pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/ART8-1c.pdf, pada tanggal 4 oktober 2016 pukul 10.00
[3]Widya Victoria, 2016, Panglima TNI: 70 Persen Konflik di Dunia Berlatar Energi, diakses dari http://www.rmol.co/read/2016/08/26/258465/Panglima-TNI:-70-Persen-Konflik-Di-Dunia-Berlatar-Energi-, pada 4 Oktober 2016 pukul 11.00

[4] AECCenter, 2015, 4 Pilar Asean, diakses dari http://aeccenter.kemendag.go.id/en/tentang-aec-2015/4-pilar-asean/, pada 4 Oktober 2016 pukul 11.00
[5]Santoso, W. et.al, 2008, Outlook Ekonomi Indonesia 2008-2012: Integrasi ekonomi ASEAN dan prospek perekonomian nasional. Jakarta: Biro Riset Ekonomi Direktorat Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter.
[6] Nika Pratama, 2015, Kutukan Negara Kaya Sumber Alam, diakses dari http://lipi.go.id/lipimedia/single/kutukan-negara-kaya-sumber-daya-alam/10382, pada 5 Oktober 2016 pukul 09.00
[7]Rakhmindyarto, 2014, Revitalisasi Tata Kelola Sumber Daya Alam Indonesia, diakses dari http://www.kemenkeu.go.id/en/node/43686, pada 5 Oktober 2016 pukul 11.00
[8] Kompasiana, 2012, SDA Indonesia dikuasai Negara untuk Kemakmuran Konglomerat dan Asing, diakses dari http://www.kompasiana.com/hipni_himpunan_pengusaha_nasionalis_indonesia/sumber-daya-alam-indonesia-dikuasai-negara-untuk-kemakmuran-konglomerat-dan-asing_551a0f52a33311ac1eb6591d, pada 5 Oktober 2016 pukul 11.00
[9] Nika Pratama, 2015, Kutukan Negara Kaya Sumber Alam, diakses dari http://lipi.go.id/lipimedia/single/kutukan-negara-kaya-sumber-daya-alam/10382, pada 5 Oktober 2016 pukul 09.00

0 komentar:

Posting Komentar