Kamis, 29 September 2016

ONE SYSTEM OF SOCIAL CAPITAL : yuks berbagi ilmu~



Semangat Pagi...
seperti biasa dimeja kerja jemari tangan memencet tombol- tombol keyboard berharap hari ini saya bisa menuliskan beberapa banyak kalimat dalam blog aufklarung ini.
ya hitung-hitung belajar menulis dengan memaksa teman saya untuk mengkritiknya.
Well ~ thanks yang sudah bantu untuk kritik membangunnya ya.

beberapa waktu lalu, kami masuk pada mata kuliah seminar kebijakan publik dengan pembicara dosen luar kampus. beliau memberikan materi tentang Social Capital yang mengarah pada  SOS Children's Villages.
SOS lahir di Austria dan sekarang sudah meluas di dunia termasuk Indonesia. ada beberapa titik persebarannya yaitu Lembang (Bandung), Cibubur (Jakarta), Semarang, flores, meulaboh (aceh), medan, dan tabanan (Bali).

SOS ini terkenal diluar negeri tapi tidak di Indonesia. dan memalukannya saya pun tidak tahu apa itu SOS. hehee.
Dalam blog ini, saya tidak menceritakan tentang apa itu SOS. Bila penasaran, kalian bisa mencari tahu sendiri di link ini http://www.sos.or.id/tentang-sos
----------
Baik.. Saya lanjutkan..
Dalam perjalanan penjelasan dosen tersebut, ada hal menarik yang saya dapatkan. yaitu sistem yang mereka gunakan. ya pastinya teman-teman tahu sistem sangat mempengaruhi jalannya sebuah organisasi. saya tidak menjelaskan tentang sistem pengadministrasian mereka, tapi saya ingin menjelaskan tentang sistem pengasuhan mereka. 

jadi SOS ini mempunyai beberapa rumah pada suatu daerah,contohnya di tabanan (Kabupaten Bali). dalam satu rumah di isi 10 orang anak yang mereka tidak kenal satu dan lainnya. mereka adalah anak-anak yang tidak mempunyai orang tua, yang bina di organisasi sosial tersebut. 10 orang anak dalam 1 rumah ini, mempunyai tingkatan umur. contohnya Budi umur 10 tahun, Ani umur 13 tahun, dst... sehingga yang umurnya lebih tua dapat mengasuh adik-adiknya. dalam 1 rumah terdapat 1 orang ibu asuh, yang dianggap sebagai ibu mereka sendiri. anak-anak tesebut diberikan pengajaran tentang Smart Parenting. Mereka disiapkan untuk menjadi ibu dan ayah yang baik. meskipun mereka tidak kenal satu sama lainnya, tapi mereka terlihat seperti keluarga sendiri, karena mereka tumbuh dan berkembang bersama-sama. 


Nah semoga ini dapat menjadi sebuah inspirasi dan dapat diadopsi, digabungkan dengan model sistem yang lain. atau mungkin sudah diterapkan beberapa lembaga sosial, dan ada model sistem yang lebih baik, saya harap teman-teman dapat sharing  dengan komenan blog ini.
------






0 komentar:

Posting Komentar